Kehilangan I Bagian Tiga


Ketika telah habis beberapa suap dari hidangan hasil masakan umi, tiba-tiba pintu dapur terbuka.
Seorang laki-laki hampir memasuki baya namun masih telihat kekar dengan warna kulit yang seakan gosong akibat terlalu sering terpapar sinar matahari, berbaju sangat lusuh dan sebagian kotor terkena cipratan tanah itu muncul dari balik pintu dan mengucapkan salam
“assalamu’alaikum…”

“Wa ‘alaikumsalam, warohamtulloh”  Jawab ra dan uminya kompak.

“Bapak baru pulang ?”

“Ia mi, barusan di sawah banyak yang harus di kerjakan”

Oh iya, bersihin terus ganti baju dulu yah pak, terus langsung kita makan bareng, mumpung kita juga makannya belum selesai”

Bapak memang hampir setiap hari tidak pernah absen ke sawah. Pergi pagi setelah menghabiskan sarapannya dan juga shalat dzuha, pulang biasanya paling cepat dzuhur atau paling telat sore sebelum waktu shalat asar. Ia menggarapa beberapa sawah miliknya yang seringkali di tanami dengan padi. Dan biasanya baru bisa di panen dengan durasi paling cepat selama 3 bulan sekali tergantung pada jenis padi yang di tanam.

Saat itu, dapur yang terlalu sederhana dengan perabotan khas nya menggenapi bahagia keluarga tersebut. Berjamaah makan siang di temani lauk pauk sayur kangkung ikan asin dan sambel membuat kebersamaan semakin sempurna.

Bapak sudah rapih mengenakan sarung bercorak cokelat, koko berwana putih yang pucat dan kopiah hitam merk  H. Iming yang biasa ia kenakan sehari-hari. Ia berganti baju setelah tadi mandi dengan cepat karena keinginannya untuk segera berkumpul bersama anak dan isteri tercinta.

“Bapak udah rapih tumben?”

Yah kan tadi umi yang nyuruh langsung bersih-bersih terus ganti baju, bapak pakai baju rapih gini kan biar nanti beres makan terus udah adzan asar bisa langsung ke mesjid”

“Oh iya betul pak, gimana tadi di sawah pak, air nya masih lancar kan ?”

“Alhamdulih air nya masih cukup samapai waktu panen nanti, meskipun harus sering-sering di kontrol perairannya karen berebutan sama sawah-sawah milik yang lain”

Sepertinya bapak ini memang pencinta sawah sejati, kata umi, beliau sampai rela pergi ke sawah pas dini hari, demi me ngecek perairan di sawah itu. Memang kecintaan nya itu bukan sejatinya sawah yang ia cintai tapi ia mencintai keluarganya, usaha yang bisa ia lakukan hanyalah ke sawah, sumber perekonomian yang ia punya hanya itu, untuk biaya sekolah, biasa resiko sehari-hari, syukur-syukur ia samapi bisa mengkuliah kan anak bungsunya, meskipun kedua kakaknya dulu tak bisa sampai tamat perguruan tinggi.

Obrolan demi obrolan yang hangat mengalir begitu saja pada siang menuju sore itu, hingga tak terasa adzan asar berkumandang dengan merdu, bersumber dari pengeras suara mesjid yang terletak di sebelah utara dari rumah, jarak yang sangat dekat bisa di capai hanya dengan beberapa langkah saja.

Alhamdulillah, pas adzan asar makan pun sudah selesai, bapak pamit ke mesjid dulu yah”

“Oh iya pak jawab ra”

“Hati-hati yah pak, jangan lupa doain umi, doain ak-anak kita, doain kelurga kita seluruh muslimin juga yah”

Bapak sudah pergi ke mesjid, sementara umi dan ra masih sibuk membereskan dapur seusai makan, lalu tak lama kemudian mereka pun siap-sip untuk melaksanakan shalat ashar.

#bersambung
#ODOPBACTH7
#KMP2






Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url



Beri Dukungan

Nih buat jajan