Sukarame cerita di balik cerita rakyat

Kabupaten Sukabumi, adalah salah satu kabupaten yang berada di Tatar Pasundan, Jawa Barat,Indonesia. Dengan Ibu kota nya Palabuhan Ratu. Kabupaten ini merupakan kabupaten terluas kedua di pulau Jawa setelah Banyuwangi. Kabupaten Sukabumi berbatasan dengan Kabupaten Bogor, di utara. Sebelah Timur berbatasan dengan Cianjur, samudera Hindia di sebelah selatan dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lebak.

Ada yang menarik di kabupaten Sukabumi ini, yaitu selain daerah nya yang masih asri, di Kabupaten ini juga terdapat banyak objek wisata yang menyugukan  berbagai keramahan pemandangan yang masih alami dan segar, di antara objek wisata itu adalah Situ Sukarame yang terletak di sebelah utara kabupaten Sukabumi. Tapatnya di Desa Sukarame Kecamatan Parakansalak.

Situ sukarame terletak tepat di kaki gunung salak, air nya yang jernih terkemas oleh danau yang cukup luas dikelilingi hamparan kebun teh yang menyerupai permadani hijau di areal PT.Perkebunan Teh Nusantara VIII, tak salah jika situ ini menjadi primadona wisata. Pemandangan di Obyek Wisata Situ Sukarame di Parakansalak Sukabumi Jawa Barat cukup asri dan elok. Sejuknya udara menjadi penambah segar suasana.
Sukarame adalah tempat bertemunya 7 sungai, yakni sungai Cikahuripan, sungai Cisalada, sungai Citaman, sungai Cisarandi, sungai Cimaci, sungai Cipangelah, dan sungai Cisela.
Menurut cerita rakyat yang banyak di angkat mengenai situ sukarame ini adalah berawal dari masa pemerintahan belanda yang memiliki ambisi untuk membuat sebuah bendungan yang akan dijadikan telaga untuk berlayar. Seorang kolonial belanda yang memiliki ambisi ini adalah Tuan Hola yang menguasai daerah parakansalak pada waktu itu. Dia membuat sebuah sayembara untuk mencapai ambisi nya. Pada suatu hari dia mengumumkan pengumuman tersebut. Di kumpulkannya seluruh warga setempat.
sayembara…. sayembara…sayembara….
wahai para rakyat, barang siapa yang bisa membendung sungai Cikahuripan, sungai Cisalada, sungai Citaman, sungai Cisarandi, sungai Cimaci, sungai Cipangelah dan sungai Cisela menjadi satu bendungan yang akhirnya menjadi talaga . Maka saya akan memberikan jabatan yang sangat tinggi
Mendengar pengumuman tersebut, masyarakat di daerah itu kebingungan, karena hampir semuanya berfikir tidak akan ada yang mamapu untuk mengerjakannnya
“saya yang akan menyelesaikan telaga itu, saya sanggup!”
Ucap seorang laki-laki berbadan tegap dan cukup besar mencerminkan seorang gagah berani juga luas ilmu pengetahuanna. Dia adalah ki Ama mules.
“oke, ik terima kesanggupan kamu”
“kapan kamu mulai mengerjakannya?”
“secepatnya Tuan!”
Jawab laki-laki pribumi itu.
Ama mules mulai mencari bala bantuan kepada anak buahnya dari bangsa siluman.
“kalian harus bisa bantu saya membuat bendungan yang dimintai Tuan Hola si kampret belanda itu!”
“siap Tuan, kami akan membant Tuan
Untuk melancarkan pekerjaan nya, Ama Mules tidak mengerjakan proyek itu pada siang hari. Selalu malam hari di karenakan pembantu yang ia pekerjakan adalah dari bangsa siluman atau jin.
“kita sudah memasuki hari ke 20 memproses pekerjaan ini, kenapa elum juga selesai?”
Tanya Ama kepada bala tentara nya
ampun Tuan, kita sudah berusaha keras, dan sebetulnya di hari ke 10 pun telaganya sudah hampir selesai. Tapi entah kenapa tanggul yang kami buat selalu jebol”
“kalian saja yang tidak becus bekerja!”
Bentak Ama kepada para siluman itu.
cepetan selesaikan bendungan itu, saya tidak mau tahu”
“baik Tuan”
Pada malam ke 20 itu, tepat malam bulan purnama Ama Mules menemukan seekor ulang di daerah proyek tersebut, karena efek masih kesal kepada para anak buahnya, dengan serta merta Ama Mules langsung membacok ular itu dengan golok yang sedang ia pegang.
Di kemudian malam, seperti biasa, ia kembali lagi ke tempat pengerjaan bendungan tersebut, untuk mengerjakan sekaligus mengecek sudah sejauh mana hasil pekerjaan bala tentara nya.
Ia tercengang, dengan apa yang di saksikannya, para siluman dengan gigih bekerja hoingga membuat tanggul selesai, namun tiap kali pengerjaan tanggu;l itu berhasil di selesaikan, selalu saja jebol. Padahal mereka membiatnya dengan sungguh-sungguh.
 Ama Mules merasa sangat kebingungan, kenapa ini bisa terjadi.
aneh, ini di luar logika. Sepertinya ada yang tidak beres!”
Dengusnya didalam hati.
Ia merasa sedikit putus asa yang pada akhirnya ia memutuskan untuk meminta bantuan kepada kakak seperguruanya yang bernama Ama Imor di daerah Sela Jambe.
Ia memanggil kakak seperguruannya itu dengan sebuatan ki lanceuk.
“ki, saya menyanggupi sayembara yang di adakan koloneal belanda untuk membendung tujuh sungai didaerah parakansalak agar di jadikan telaga, tetapi sudah hampir setengah tahun ini`tidak selesai juga, bendungan itu gagal terus karena setiap tanggul yang berhasil dikerjakan selalu jebol. Padahal pengerjaannya sudah sungguh-sungguh” 
“makanya, kamu jangan merasa gagah,ki kamu mungkin sempat berbuat jahat di daerah itu ?”
“saya memang pernah membunuh seekor ular hitam disitu”
“nah, itu kejahatan yang kamu perbuat yang menyebabkan pekerjaan kamu terhambat”
“terus apa yang bisa aku perbuat ki?”
“kau tahu, ular itu siapa?”
Tanya ki Ama Imor kepada adik seperguruannya  
“tidak, ki.”
“ular itu adalahjelmaan ander cahya. Raja siluman yang menguasai tempat itu, dia adalah suami dari dewi purbasari yang sekarang meminta pertanggung jawaban kamu untuk menikahinya karena suaminya telah kamu bunuh”
Mendengar penjelasan itu, Ki Ama Mules kaget tak terhingga.
“jika apa yang sedang kamu kerjakan sekarang ingin sukses, maka kamu harus mau menikahi Nyi Dewi Purbasari itu, Bagaimana, kamu sanggup?”
“iya ki lanceuk, saya sanggup”
Jawab ki Ama Mules tanpa berfikir panjang. Demi lancarnya apa yang ia inginkan untuk membuat bendungan yang di minta koloneal belanda itu.
Maka pernikahan itu terjadi dan setelah mereka menikah, Nyi dewi Purbasari memberikan pituah kepada Ki Ama Mules. Bahwa jikalau ingin telaga itu selesai, maka harus di pakaikan tumbal berupa bayi bule yang kembar.
Mendengar pituah itu, ki Ama muleslangsung menyampaikannya kepada Tuan Hola.mendengar penuturan Ama Mules, Tuan Hola kaget juga bingung tak terhingga.
“kemana harus aku cari bayi kembar itu
Ungkapan kebingan dalam hatinya.
Tidak menunggu waktu terlalu lama, mimik muka Tuan Hola berubah menjadi sumringah, sambil berucap kepada Ama Mules
eee itu Tuan Mules punya prodak, eeee itu syarat sangat gampang,kamu tenang saja. Besok pagi ik sediakan bayi kembar untuk syarat.asalakn perut kamu tidak mules lagi”
Ternyata usut punya usut, yang menyebabkan Tuan Hola bisa dengan mudah memberika jawaban seperti itu, karena ia memiliki adik perempuan yang baru saja melahirkan bayi kembar siam, daripada bayi itu membuat malu keluarga dan jadi aib fikir dia mending di jadikan tumbal saja.
Setelah bayi kembar itu di jadikan tumbal, pekerjaan Ki Amar Mule lancar dan sukses tidak sampai satu bulan, lembah yang asalnya suram menjadi telaga yang indah dengan air yang sangat jernih, membuat mata terpana.
Di tengah telaga tersebut terdapat semacam pulau yang kecil, yang di jadikan sebagai tempat untuk istirahan dan menenangkan fikiran bagi Tuan Hola dan keluarganya.
Sampai sekarang tempat itu menjadi tempat wisata yang menarik banyak pengunjung. Tidak sedikit orang yang berkunjung ke tempat itu sambil memancing ikan , meskipun konon katanya dari dulu telaga itu tidak ada yang menanaminya ikan, tetapi bagi para pemancing selalu saja bisa mendapatkan ikan.
Kemudian, kadang kala dari sekian banyak pengunjung ada yang pernah melihat dua ikan mas berwarna merah seliweran seperti bergandengan selalu bersama kemana-mana, dan itu beritanya adalah jelmaan dari bayi yang dulu di jadikan tumbal.
Nama situ sukarame itu sendiri di ambil dari nama kampung di daerah tersebut. Ada yang mengatakan bahwa Pada awalnya wilayah tersebut hanya berupa hutan rimba tanpa penduduk. Pertama kali menempati daerah tersebut yaitu Ama Sadarina, seorang pimpinan tentara Kerajaan Mataram yang bersembunyi karena diburu oleh kolonial Belanda. Sejak kedatangan Amma Sadarina tersebut, maka tempat tersebut menjadi ramai, karena Ama Sadarina membuka perguruan ilmu Kadigjayaan, hingga pada akhirnya tempat tersebut dikenal dengan sebutan kampung Sukarame.
Keindahan Situ Sukarame ini seringkali di lantunkan dalam pupuh sinom oleh para pencinta seni sunda :

Gunung slak ngabadega
Gunung wayang ngajungkiring
Kebon enteh anu mayakpak
Tangkal pinus jujung langit
Gunung peser ngajegir
Ngareret ka belah kidul
Tuh antra pilembutan
Lemburn mun itu geuning
Lembur singkur nu endah
Parakansalak
Vak under salk


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url



Beri Dukungan

Nih buat jajan